Rasa humor yang diyakini mewakili proses kognitif dan afektif kompleks tingkat tinggi, telah menjadi kekuatan pendorong utama dalam perkembangan kemampuan persepsi dan intelektual manusia yang unik. Mengingat fungsi sosialnya untuk membantu seseorang beradaptasi dalam konteks sosial serta menjaga keharmonisan sosial, adalah hal yang sangat penting untuk memahami perbedaan antara rasa humor adaptif dan maladaptif, dan bagaimana hal tersebut dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di bawah dukungan Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Taiwan (MOST), Professor Hsueh-Chih Chen dari National Taiwan Normal University (NTNU) bersama tim ilmuwan, yaitu C.L. Wu, Y.L. Chang dari NTNU, F.C. Chiu dari Chinese Culture University (CCU), Y.C. Chan dari National Tsing Hua University (NTHU), dan Y.N. Lin dari Fu Jen Catholic University menggunakan berbagai metode penelitian termasuk kuesioner, skala psikologis, dan fMRI untuk mengumpulkan data tentang rasa humor, untuk menyimpulkan teori gaya humor paling lengkap yang ada saat ini, untuk mengeksplorasi lebih lanjut fondasi saraf dan perbedaan budaya. Beberapa hasil penelitian saat ini telah mulai digunakan untuk membantu anak-anak penyandang sindrom Asperger untuk mengembangkan rasa humor positif.
Tim peneliti Profesor Chen bersama para ilmuwan internasional lainnya, telah meneliti rasa humor di berbagai negara, yaitu Spanyol, Selandia Baru, Italia, Latvia, India, Inggris (Irlandia Utara), Malaysia, Austria, Kroasia, Meksiko, Chili, Polandia, Swiss, Tiongkok (Beijing, Guangzhou), Taiwan, Slovakia, Jerman, Rusia, Kosta Rika, Turki, dan Lebanon dengan melibatkan 7.226 orang.
Penelitian tersebut menemukan bahwa orang Italia paling sering menggunakan humor dalam percakapan, sementara orang Taiwan, menempati urutan 15 dalam penelitian tersebut. Orang Spanyol dan Selandia Baru lebih banyak menggunakan humor adaptif daripada orang negara lain, sementara orang India dan Chili adalah kelompok orang yang memiliki kemungkinan paling kecil dalam menggunakan humor maladaptif.
Tim peneliti Profesor Chen juga menerbitkan buku “Rasa Humor dengan Skala Martin”, Puhlik-Doris, Larsen, Gray, dan Weir (2003) versi bahasa Mandarin, yang membagi penggunaan humor menjadi empat kategori, yaitu afiliatif (humor yang baik bagi orang lain); peningkatan diri (baik untuk diri sendiri); agresif (bersifat menyerang terhadap orang lain); dan menyerang diri sendiri (berbahaya bagi diri sendiri). Kategori afiliatif dan peningkatan diri digolongkan sebagai adaptif, sementara agresif dan menyerang diri sendiri digolongkan sebagai maladaptif.
Penemuan sebelumnya juga menyimpulkan bahwa perempuan memiliki kecenderungan yang sangat kecil untuk menggunakan humor yang bersifat agresif dan peningkatan diri. Hal ini berkaitan dengan tingkat empati yang berbeda pada masing-masing gender.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 239 pasangan suami-istri di Taiwan cenderung menggunakan humor maladaptif ketika saling berinteraksi, sebagai contoh, humor agresif sering digunakan untuk merespons humor agresif atau humor menyerang diri sendiri yang diucapkan oleh lawan bicara.
Tim peneliti juga menemukan, bahwa kesehatan fisik, mental dan hubungan interpersonal masyarakat Taiwan memiliki korelasi positif dengan penggunaan dua gaya humor adaptif, dan memiliki korelasi negatif dengan gaya humor agresif. Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian yang dilakukan di negara Barat. Namun, perbedaan antara budaya timur dan barat terlihat pada gaya humor menyerang diri sendiri, yang dipandang kurang memiliki daya serang dibandingkan di negara barat. Hal ini bisa jadi dikarenakan, meskipun gaya humor menyerang diri sendiri berkorelasi negatif dengan harga diri, tetapi gaya humor tersebut memiliki korelasi positif dengan empati, refleksi emosional, dan regulasi emosional, sehingga sesuai dengan budaya Tionghoa yang mengutamakan kerendahan hati dan keharmonisan hubungan antarpribadi. Untuk menguji asumsi tersebut, tim peneliti menggunakan fMRI untuk menganalisis aktivitas otak peserta yang sedang menrima rangsangan dari empat gaya humor. Ketika rangsangan tersebut mendorong hubungan interpersonal yang kuat, para peneliti akan mengamati aktivitas kortikal serebral yang lebih besar. Penelitian ini telah menghasilkan bukti empiris untuk perbedaan budaya berdasarkan aktivitas saraf kranial, dan berhasil meraih apresiasi yang sangat tinggi dari jurnal internasional.
Ketika tim peneliti membandingkan perbedaan penggunaan gaya humor oleh siswa penyandang sindrom Asperger dan siswa normal, tidak ditemukan perbedaan dalam penggunaan gaya humor maladaptif (penelitian ini juga menyanggah bahwa siswa penyandang sindrom Asperger tidak memiliki rasa humor). Akan tetapi, penggunaan gaya humor adaptif sindrom Asperger terlihat jauh lebih sedikit daripada rekan-rekan siswa normal. Berdasarkan pada sebagian dari hasil temuan ini, Profesor Chen bersama tim ilmuwan telah merancang program pengajaran humor untuk siswa penyandang sindrom Asperger, yang terdiri dari perkuliahan, pengamatan, pengalaman, dan permainan peran. Metode ini terlihat berhasil meningkatkan kecenderungan peserta untuk menggunakan humor afiliatif secara signifikan.
Tim peneliti Profesor Chen juga menggunakan Diffusion Tensor Imaging (DTI) dengan pemindai gambar (image) resonansi magnetik nuklir untuk mengamati variasi koneksi materi dalam otak pada orang yang menggunakan gaya humor berbeda. Bukti neurofisiologis mengenai gaya humor ini telah menjadi sebuah kontribusi yang sangat berharga dalam bidang psikologi di seluruh dunia, serta menjadi inspirasi terhadap pengembangan metode pengajaran untuk mengurangi penggunaan humor agresif pada siswa, yang selama ini tengah menjadi perhatian serius dari para psikolog internasional.
Selanjutnya, untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh tentang penggunaan gaya humor di Taiwan, tim peneliti akan melakukan eksplorasi yang terfokus pada penduduk asli, untuk diintegrasikan dengan penemuan gaya humor lainnya dari seluruh dunia, dan dijadikan materi pengajaran, yang dapat meningkatkan perkembangan anak-anak penduduk asli.